20 Jul 2011

kabar yandi sofyan (Indonesia) dari perancis - CS VISE

Surat Yandi Dari Perancis : Latihan Di Vise Melelahkan…

Hallo sobat setia ekaandrisusanto.wordpress.com. Untuk pertama kalinya Yandi menyapa kalian langsung dari Perancis. Sejak Senin kemarin, saya sudah memulai aktifitas latihan secara resmi di klub RCS Vise Belgia. Sebuah pengalaman yang benar – benar berbeda dari sebelumnya.

Pastinya pembaca setia ekaandrisusanto.wordpress.com semuanya sudah tahu  bahwa RCS Vise saat ini tengah berada di Vittel Perancis untuk menjalani persiapan pra musim. Kalau tidak salah, Vise sendiri baru akan mulai berkompetisi di Divisi II Liga Belgia 2011 pada tanggal 17 Agustus 2011. Hmmm…berarti pas bulan puasa ya.

Yandi tidak sendirian di sini, ada juga Alfin Tuasalamony dan Yericho Christiantoko yang kebetulan ditempatkan sekamar selama di Perancis. Kita saat ini memang sedang menjalani proses adaptasi dengan lingkungan maupun cuaca di sini.

Oh iya, cuaca dan iklim di sini sedang berbeda dengan di Montevideo yang tengah dilanda musim dingin. Seperti daerah lainnya di eropa, di Perancis  juga tengah memasuki musim panas. Tapi panas di sini tentunya tidak seperti di Garut, hehehe… Malah enak buat beraktifitas di luar ruangan.

Secara umum, pola latihan di sini tidak beda jauh dengan di Uruguay. Hanya memang beban latihan lebih berat dan rekan – rekan satu tim lainnya punya fisik yang lebih kekar. Semoga kita bisa mengimbangi mereka nantinya. Pokoknya harus optimis bisa berasing dan tidak membuat malu bangsa Indonesia.

Latihan lebih berat kita jalani pada hari kedua. Soalnya pelatih memberikan menu test fisik. Luar biasa capeknya. Tapi di sini kami benar – benar merasakan manfaatnya kita digembleng habis selama empat tahun di Uruguay.  Dunia sepakbola professional memang sangat keras dan butuh daya tahan tinggi. (Jadi malu kalau dulu sesekali suka mengeluh karena menu latihan berat..)

Menurut kabar dari manajer tim, kita berada di Vittel hingga Jumat minggu ini. Besoknya kita akan kembali ke Belgia untuk memulai persiapan lebih serius di kandang sendiri. Yandi sih mohon doa restu dari pecinta sepakbola Indonesia, biar bisa menjalani semua ini dengan sukses.

Kalau tidak ada latihan, Yandi biasa menghabiskan waktu berinternet. Belakangan ini Yandi lebih suka buka twitter daripada facebook. Malahan sudah lama juga nih gak buka facebook. Pembaca setia ekaandrisusanto.wordpress.com boleh saja memfollow Yandi di @YandiSofyan.  Kalau di facebook, cukup search Yandi Sofyan Munawar.

Alhamdulillah, support dari teman – teman di Indonesia maupun di Uruguay sangat besar buat Yandi, Alfin dan Rico. Pokoknya di Twitter pun ramai sama mereka yang memberi dukungan maupun nanya kabar kami di sini. Spesial untuk ekaandrisusanto.wordpress.com, nanti kita juga akan kabari terus perkembangan di sini.

Sudah dulu ya, Yandi mau ikut latihan sore dulu. Wassalamualaikum wr wrb…..
Perancis
19 Juli 2011

Hasil Pertandingan tim SAD Indonesia di uruguay (Juli 2011)

Usai Kandaskan El Tanque, Pemain SAD Indonesia Diserbu Penonton

Share |
Tim SAD Indonesia U19 kembali harus menelan pil pahit dalam lanjutan Torneo De Honor 2011 Uruguay. Pada pertandingan terakhirnya yang berlangsung Rabu (13/7) di Estadio de Pando, Reffa Money dkk harus mengakui keunggulan tuan rumah El Tanque Siley 1-2. Ini merupakan kekalahan kedua yang diderita tim asuhan pelatih Cesar Payovich dalam tujuh pertandingan yang telah dilakoninya.

Nampaknya, setelah tidak lagi diperkuat Yandi Sofyan, Alfin Tuasalamony dan Yerico Christiantoko yang akan bergabung dengan CS Vise Belgia, cukup mempengaruhi kekuatan SAD Indonesia U19. Hasrat SAD Indonesia untuk merebut tampuk pimpinan klasemen dari Boston Rver pun semakin sulit terwujud. Apalagi Boston River memiliki jumlah pertandingan dua kali lebih sedikit dari SAD Indonesia. “ Kali ini lawan memang lebih beruntung, padahal secara permainan sih kita berimbang.

Secara kasat mata, dua gol lawan juga sebenarnya berbau off-side,” ungkap Hadi Wibowo, striker SAD Indonesia U17 yang ditarik ke SAD Indonesia U19 karena minim stok di lini depan. Kondisi berbeda dialami Tim SAD Indonesia U17 yang semakin tak terbendung dalam kiprahnya di Torneo De Honor Uruguay 2011. Pada laga yang juga berlangsung di Estadio de Pando, usai SAD Indonesia U19 bermain, Antony Putro Nugroho dkk berhasil mengalahkan El Tanque Siley dengan skor 2-0. Sejak awal pertandingan, para pemain SAD Indonesia U17 sudah mendominasi serangan. Pergerakan Ricky Bardes dan Wawan Febrianto disektor sayap cukup merepotkan tuan rumah yang didukung ratusan penonton.

Meski lebih banyak menyerang dari sayap, gol SAD Indonesia U17 justru lahir berkat tendangan keras Antony Putro Nugroho daru luar kotak penalty. Gol ini seakan menjadikan penasbihan bagi Antony sebagai pemilik cannon ball yang sangat ditakuti kiper manapun. SAD Indonesia U17 baru bisa mencetak gol lagi pada babak kedua lewat eksekusi tendangan penalty Randy Chandra. Hadiah penalty ini diberikan wasit setelah pemain belakang El Tanque melakukan pelanggaran keras terhadap Hadi wibowo di daerah kotak terlarang. Setelah unggul 2-0, para pemain SAD Indonesia justru tertekan oleh lawan yang meningkatkan intensitas serangan.

Beruntung, Yanto Basna dkk di lini belakang tampil sangat lugas dalam menjaga pertahanannya dari gelombang serangan lawan. Praktis, mereka hanya main bertahan di sisa waktu pertandingan, hingga wasit meniupkan peluit panjang pertandingan. Ternyata, kekalahan ini tidak bisa diterima begitu saja oleh pendukung tuan rumah El Tanque. Usai pertandingan, mereka menumpahkan amarahnya dengan memasuki lapangan pertandingan. “ Kejadiannya begitu cepat.

Usai pertandingan, suasana menjadi kacau karena penonton menyerbu ke dalam lapangan. Beruntung polisi cukup banyak yang bertindak. Kita bisa aman sampai masuk ke dalam bus,” ungkap Hadi Wibowo. “ Syukurlah kita bisa selamat. Coba bayangkan, warga satu kampung menyerang kami. Ini adalah pengalaman Bertempur di Negeri Orang...hehe,” imbuh Yanto Basna. Kendati demikian, bus pemain SAD Indonesia tetap tak luput dari kerusakan. Bebapa kaca bus pecah karena terkena lemparan. Tak mengapalah, yang penting pemain selamat. (asp/san).

SAD U-17 vs El Tanque Sisley 2-0
gol Antoni Putra, Randy Chandra
Starter SAD Indonesia U17
Penjaga Gawang : Teja Paku Alam
Pemain Belakang : Arif Gangsar, Eggi Hadyatmiko, Yanto Basna, Indra Permana
Pemain Tengah : Ricky Bardes, Arya Rusandy, Hendriko Masko, Wawan Febrianto
Pemain Depan : Antoni Putra, Gugum gumilar

SAD U-19 vs El Tanque Sisley 1-2
gol Haris Tuarea
Starter SAD Indonesia U19
Penjaga Gawang : Tri Windu
Pemain Belakang : Taji Prasetyo, Syaifuddin, Reffa Money, Ferdiansyah
Pemain Tengah : Manahati Lestusen, Feri Firmansyah, Rizky Pellu
Pemain Depan : Vava Yagalo , Rahman Lestaluhu, Haris Tuharea


Klasemen Torneo U17
 
Club M M S K GM GK DIF Pts.
INDONESIA FUTBOL SAD 7 5 1 1 12 4 8 16
JUVENTUD 4 3 1 0 7 1 6 10
RAMPLA JUNIORS 4 3 1 0 5 2 3 10
CENTRAL ESPAÑOL 4 3 0 1 9 1 8 9
EL TANQUE SISLEY 5 3 0 2 9 9 0 9
BELLA VISTA 3 2 0 1 8 2 6 6
TACUAREMBO 4 2 0 2 14 9 5 6
RENTISTAS 4 2 0 2 6 8 -2 6
BASAÑEZ 4 1 2 1 4 5 -1 5
PROGRESO 4 1 1 2 1 2 -1 4
HURACAN 4 1 1 2 8 10 -2 4
VILLA TERESA 4 1 0 3 3 5 -2 3
ROCHA F.C. 4 0 3 1 3 5 -2 3
SUD AMERICA 4 1 0 3 4 11 -7 3
BOSTON RIVER 5 1 0 4 3 10 -7 3
DEP. MALDONADO 4 0 0 4 1 13 -12 0

 
Klasemen Torneo De Honor U19
 
 
Club M M S K GM GK DIF Pts.
BOSTON RIVER 5 5 0 0 18 8 10 15
INDONESIA FUTBOL SAD 7 4 1 2 18 8 11 13
TACUAREMBO 4 2 2 0 9 3 6 8
EL TANQUE SISLEY 4 2 1 1 10 5 5 7
HURACAN 4 2 1 1 8 8 0 7
BELLA VISTA 4 2 1 1 8 9 -1 7
CENTRAL ESPAÑOL 4 2 0 2 11 9 2 6
JUVENTUD 4 2 0 2 7 7 0 6
BASAÑEZ 4 2 0 2 8 10 -2 6
SUD AMERICA 4 2 0 2 7 10 -3 6
RAMPLA JUNIORS 4 1 1 2 11 10 1 4
RENTISTAS 4 1 1 2 7 9 -2 4
PROGRESO 4 1 0 3 7 10 -3 3
ROCHA F.C. 4 1 0 3 5 8 -3 3
DEP. MALDONADO 4 1 0 3 5 9 -4 3
VILLA TERESA 5 0 0 5 2 19 -17 0

NOAH’S ARK IN OHIO

NOAH’S ARK IN OHIO?
The ruins of Noah’s Ark lie in the mountains of eastern Turkey, once called Anatolia, and
regarded by skeptics as a myth, as are all biblical stories among these same skeptics. The main
problem they have is that many other cultures and civilizations such as the Sumerians,
Babylonians, Chinese, Indians and Mayans not to mention many others, all have the same or
very similar story as a part of their cultural histories. The story of the ark cannot merely be
arrogantly consigned to “biblical myth,” written by wandering tribsemen 3,500 years ago in
the Sinai desert. Now, the evidence for it’s actual existence has been presented. The first two
cities of our cvilization have been discovered nearby the ark remains. In May of 1948, after a
series of earthquakes, the hulk of its impression mold rose up out of the ground as liquifaction
caused the surrounding terrains to disintigrate and fall. Reshit Sarihan, a local Kurdish-
Turkish farmer was its discoverer. In 1960 Life magazine showed photographs of the ark
impression to the world. A UPI writer in Ankara mistakenly announced to the world that the
ark had been found “on Mount Ararat” seventeen miles to the north commencing many ark
hunting expeditions up that formidable mountain. And so goes the confusion. But to claim “the
Ark of Noah is in Ohio” seems, at first blush, to add to the confusion rather than help.
Above is a recent ( 2007 ) high resolution satellite
photo of the ark mold near the village of Uzengili, Agri
Turkey. The villagers of Nasar ( town’s old name )
changed it in 1948 when they saw the soft earthen image
of a giant man 530 feet in length lying in profile in the
ark. Thinking of the Arabic myth of the giant Uzengil ( a
Paul Bunyan type character ) they changed the ancient
name of their village to Uzengili, meaning, “it belongs to
Uzengil.”
Left, is a NATO aerial mapping photo from 1959 showing
the ark mold as it then existed, with little erosion from
seasonal snow run-off.
PHOTOGRAPH COURTESY OF HOUSTON McCULLOCH
In 1860, this infamous artifact was found in a burial site under a pyramidal tumulous of
melon sized rocks, 45 feet high and 500 feet in perimeter measurement. It is about 8” in length
and made of some very dark stone. As you must realize, this is an unwanted stepsister of an
artifact, totally rejected by the American academics. Pure fraud, “as any fool can plainly see,’ as
Al Capp’s cartoon character Little Abner might have pronounced. Another rejected artifact by the
establishment skeptics. This one happens to have the biblical 10 Commandments wrapped
around its sides in an inscription of very readable Hebrew letters, of a type utilized for grave
monuments in Palestine from a period of time 2000 years ago. So again we see the skeptics
reject it since it smacks of the Bible as usual. But what is striking to this author is its similarity
in overall design and specific details to the Ark of Noah remains at 6,500 feet above sea level in
far eastern Anatolia.
One might ask, “How could this be?” “How could a 2000 year old artifact have arrived in
North America from Anatolia at such a remote time?” Indeed, how could this have occurred
unless there were others and unless it is set against a background of a Hebrew culture among
the enigmatic Mound Builders? This, in and of itself, is not a problem. Phoenicians had the
ships, the maritime technology and knowledge, and the Mound Builders, their client passengers,
were called “Taligewi” by the Lene Lenapi ( Deleware ) indians who fought and prvailed over
them. Tel is “mound” in Hebrew and “teli” is equivilent to “mounds.” The next word “gewi”
means “nation’ and more commonly pronounced “goyee” meaning “nations.” Hebrew was their
language. If it walks like a duck and quacks like a duck, it must be a duck.
So we will now compare the two artifacts, and we shall see the likelihood of no relationship is
on the mathematical order of one hundred million to one against such an idea, meaning the
likelihood for a relationship is of the same order of magnitude. They are related in concept.
So here we have an old world artifact, uncovered in 1860 from and Ohio ruin. What do we
say or do about it? Do we reject it as the academics have done? Or do we reject the academics?
As for me I do the latter with enthusiasm and pity.
David Allen Deal Vista California 2008
http://www.noahsark-naxuan.com

Indonesia adalah Atlantis, Benua yang Hilang

Indonesia adalah Atlantis, Benua yang Hilang?
















Legenda yang berkisah tentang “Atlantis”, pertama kali ditemui dalam
karangan filsafat Yunani kuno: Dua buah catatan dialog Plato (427-347
SM) yakni: buku Critias dan Timaeus. Pada buku Timaeus, Plato berkisah:
Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar,
dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu
adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah
kerajaan Atlantis.
Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena,
namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan
banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar
laut. Negara besar yang mempunyai peradaban tinggi itupun lenyap dalam
semalam. Satu bagian dalam dialog buku Critias, tercatat kisah Atlantis
yang dikisahkan oleh adik sepupu Critias. Critias adalah murid dari ahli
filsafat Socrates, tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam
dialog.
Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias,
sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama
Solon ( 639-559 SM). Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7
mahabijak Yunani kuno, suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari
tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda Atlantis. Catatan dalam
dialog, secara garis besar seperti berikut ini:
Ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut
Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang
menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung
banyaknya: istana dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding
perak. Dinding tembok dalam istana bertakhtakan emas, cemerlang dan
megah. Di sana, tingkat perkembangan peradabannya memukau orang.
Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga
ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya
terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda
gempa dahsyat, tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga
hilang dalam ingatan orang-orang.
Atlantis digambarkan sebagai peradaban dengan tingkat kemajuan
teknologi yang tinggi. Konon, Pesawat Terbang, Pendingin ruangan, batu
baterai, dll telah ada pada masa itu. Menurut perhitungan versi Plato,
waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih 11.150 tahun silam.
Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis
diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya sendiri. Plato
bahkan pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat
waktu itu. Guru Plato yaitu Socrates ketika membicarakan tentang
kerajaan Atlantis juga menekankan, karena hal itu adalah nyata, nilainya
jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.
Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak
12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di
manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam orang-orang
menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20
sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera
Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida
pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.

Bukti2 arkeologi……
*Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di
sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan
bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut.
Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini,
tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar!
Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada
sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah
sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang
dan poligon, besar kecilnya batu dan ketebalan tidak sama, namun
penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan
jalan posnya kerajaan Atlantis?
*Awal tahun ‘70-an, sekelompok peneliti telah tiba di sekitar
kepulauan Yasuel, Samudera Atlantik. Mereka telah mengambil inti karang
dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan
ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun
silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan,
begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat
tenggelamnya kerajaan Atlantis?
*Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8
lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya
manusia! Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?
*Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen
yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut”
laut Bermuda. Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang
lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya
berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah
piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang
menakjubkan mengalir di dasar lubang.
Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis?
Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis
membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat
piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?
*Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah
areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua,
ada dataran, jalan besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah
beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dll.
Mereka berdua mengatakan: “Mutlak percaya, yang kami temukan adalah
Benua Atlantik! Sama persis seperti yang dilukiskan Plato!” Benarkah
itu?
Yang disayangkan, piramida dasar laut segitiga Bermuda, berhasil
diselidiki dari atas permukaan laut dengan menggunakan instrumen
canggih, hingga kini belum ada seorang pun ilmuwan dapat memastikan
apakah sebuah bangunan yang benar-benar dibangun oleh tenaga manusia,
sebab mungkin saja sebuah puncak gunung bawah air yang berbentuk limas.
Foto peninggalan bangunan kuno di dasar laut yang diambil tim
ekspedisi Rusia, juga tidak dapat membuktikan di sana adalah bekas
tempat kerajaan Atlantis. Setelah itu ada tim ekspedisi menyelam ke
dasar samudera jalan batu di dasar lautan Atlantik Pulau Bimini,
mengambil sampel “jalan batu” dan dilakukan penelitian laboratorium
serta dianalisa. Hasilnya menunjukkan, bahwa jalan batu ini umurnya
belum mencapai 10.000 tahun. Jika jalan ini dibuat oleh bangsa kerajaan
Atlantis, setidak-tidaknya tidak kurang dari 10.000 tahun.
Mengenai foto yang ditunjukkan kedua kelasi Norwegia itu, hingga kini
pun tidak dapat membuktikan apa-apa. Satu-satunya kesimpulan tepat yang
dapat diperoleh adalah benar ada sebuah daratan yang karam di dasar
laut Atlantik. Jika memang benar di atas laut Atlantik pernah ada
kerajaan Atlantis, dan kerajaan Atlantis memang benar tenggelam di dasar
laut Atlantik, maka di dasar laut Atlantik pasti dapat ditemukan
bekas-bekasnya. Hingga saat ini, kerajaan Atlantis tetap merupakan
sebuah misteri sepanjang masa.
Pernah sekitar thn 2003 lalu, nonton acara di Metro TV yang judulnya
Ultimate 10, pada saat itu membahas 10 Tempat Paling Misterius di Dunia,
dan ternyata Atlantis duduk pada urutan pertama di atas Misteri
Segitiga Bermuda dan Danau Loch. Dari situ aku baru tahu, klo Atlantis
memang Tempat Misterius nombor satu yang membuat orang-orang di dunia
penasaran setengah mati. Pada saat penayangan Atlantis, diputar sebuah
film dokumenteri mengenai pelacakan benua yang hilang tersebut oleh para
tim arkeolog.
Dan benar, dari apa yang aku saksikan didasar laut perairan dangkal
Karibia ditemukan semacam jalan setapak yang sangat panjang dengan
struktur yang sangat modern. Selain itu, diperairan tsb juga ditemukan
semacam bekas-bekas bangunan yang telah hancur! benarkah benua Atlantis
itu pernah ada sebelumnya??
==================================================
LEMURIA
SELAIN Atlantis, ternyata masih ada peradaban serupa
yang diduga mengalami nasib yang sama dengan Atlantis. Lemuria atau Mu
merupakan peradaban kuno yg muncul terlebih dahulu sebelum peradaban
Atlantis. Para peneliti menempatkan era peradaban Lemuria disekitar
periode 75.000 SM – 11.000 SM.
Jika dilihat dari periode itu, Bangsa Atlantis dan Lemuria seharusnya
pernah hidup bersama selama ribuan tahun lamanya. Gagasan Benua Lemuria
terlebih dahulu eksis dibanding peradaban Atlantis dan Mesir Kuno dapat
diperoleh penjelasannya dari sebuah karya Augustus Le Plongeon
(1826-190
Description: icon,seorang peneliti dan penulis pada abad ke -19 yang
mengadakan penelitian terhadap situs2 purbakala peninggalan Bangsa Maya
di Yucatan.
Informasi tersebut diperoleh setelah keberhasilannya menterjemahkan
beberapa lembaran catatan kuno peninggalan Bangsa Maya. Dari hasil
terjemahan, diperoleh beberapa informasi yang menunjukkan hasil bahwa
Bangsa Lemuria memang berusia lebih tua daripada peradaban nenek moyang
mereka (Atlantis).
Namun dikatakan juga, bahwa mereka pernah hidup dalam periode waktu
yang sama, sebelum kemudian sebuah bencana gempa bumi dan air bah dasyat
meluluh-lantahkan dan menenggelamkan kedua peradaban maju masa silam
tersebut.
Hingga saat ini, letak dari Benua Lemuria pada masa silam masih
menjadi sebuah kontroversi, namun berdasarkan bukti arkeologis dan
beberapa teori yang dikemukakan oleh para peneliti, kemungkinan besar
peradaban tersebut berlokasi di Samudera Pasifik (disekitar Indonesia
sekarang).
Banyak arkeolog mempercayai bahwa Easter Island atau Pulau Paskah
yang misterius itu merupakan bagian dari Benua Lemuria. Hal ini jika
dipandang dari ratusan patung batu kolosal yang mengitari pulau dan
beberapa catatan kuno yang terukir pada beberapa artifak yang mengacu
pada bekas-bekas peninggalan peradaban maju pada masa silam.
Mitologi turun temurun para suku Maori dan Samoa yang menetap di
pulau-pulau disekitar Samudera Pasifik juga menyebutkan bahwa dahlulu
kala pernah ada sebuah daratan besar besar di Pasifik yang yang hancur
diterjang oleh gelombang pasang air laut dasyat (tsunami), namun
sebelumnya bangsa mereka telah hancur terlebih dahulu akibat peperangan.
Keadaan Lemuria sendiri digambarkan sangat mirip dengan peradaban
Atlantis, memiliki tanah yang subur, masyarakat yang makmur dan
penguasaan terhadap beberapa cabang ilmu pengetahuan yang mendalam.
Faktor-faktor tersebut tentunya menjadi sebuah landasan pokok bagi
Bangsa Lemuria untuk berkembang pesat menjadi sebuah peradaban yang maju
dan memiliki banyak ahli atau ilmuwan yang dapat menciptakan suatu
trobosan baru dalam Ilmu pengetahuan dan Teknologi mereka. Seperti
banyak dikemukakan oleh beberapa pakar spiritual dan arkeologi, bahwa
bangsa Lemurian dan Atlantean menggunakan crystal secara intensif dalam
kehidupan mereka.
Edgar Cayce, seorang spiritualis Amerika melalui ilmu cenayangnya
berkali-kali mengungkapkan hal yang sama. Kuil-kuil Lemuria dan Atlantis
menempatkan sebuah kristal generator raksasa yang dikelilingi
kristal-kristal lain, baik sebagai sumber tenaga maupun guna berbagai
penyembuhan.
Banyak info mengenai Atlantis dan Lemuria diperoleh dengan
men-channel kristal-kristal ‘old soul’ yang pernah digunakan pada kedua
jaman ini. Beberapa monumen batu misterius berhasil ditemukan di bawah
perairan Yonaguni, Jepang. Mungkinkah monumen-monumen itu merupakan
sisa-sisa dari peradaban Lemuria?
Namun, berbeda dengan bangsa Atlantis yang lebih mengandalkan fisik,
teknologi dan gemar berperang, bangsa Lemuria justru dipercaya sebagai
manusia-manusia dengan tingkat evolusi dan spiritual yang tinggi, sangat
damai dan bermoral. Menurut Edgar Cayce, munculnya Atlantis sebagai
suatu peradaban super power pada saat itu (kalau sekarang mirip Amerika
Serikat begitulah) membuat mereka sangat ingin menaklukkan bangsa-bangsa
di dunia, diantaranya Yunani dan Lemuria yang dipandang oleh para
Atlantean sebagai peradaban yang kuat.
Berbekal peralatan perang yang canggih serta strategi perang yang
baik, invansi Atlantis ke Lemuria berjalan seperti yang diharapkan.
Karena sifat dari Lemurian yang menjunjung tinggi konsep perdamaian,
mereka tidak dibekali dengan teknologi perang secanggih bangsa
Atlantean, sehingga dalam sekejap, Lemuria pun jatuh ke tangan Atlantis.
Para Lemurian yang berada dalam kondisi terdesak, ahirnya banyak
meninggalkan bumi untuk mencari tempat tinggal baru di planet lain yang
memiliki karakteristik mirip bumi, mungkin keberadaan mereka saat ini
belum kita ketahui (ada yang mengatakan saat ini mereka tinggal di
Planet Erra/Terra digugus bintang Pleiades).
Mungkin kisah para Lemurian yang meninggalkan bumi untuk menetap di
planet lain ini sedikit tidak masuk akal, tapi perlu kita ketahui bahwa
teknologi mereka pada saat itu sudah sangat maju, penguasaan teknologi
penjelajahan luar angkasa mungkin telah dapat mereka realisasikan di
jauh-jauh hari.
Tentunya penguasaan teknologi yang sama pada era peradaban kita ini,
belum bisa disandingkan dengan kemajuan teknologi yang mereka ciptakan.
Dari sekelumit kisah yang diuraikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa para
Lemurian tidak musnah oleh bencana gempa bumi dan air bah seperti yang
dialami oleh para Atlantean, namun karena peranglah yang membuat
sebagian dari mereka berguguran.
Sementara semenjak kekalahannya oleh bangsa Atlantis, otomatis
wilayah Lemuria dikuasai oleh para Atlantean, sampai saat ahirnya
daratan itu diterpa oleh bencana yang sangat dasyat yang kemudian
menenggelamkannya bersama beberapa daratan lainnya, termasuk diantaranya
Atlantis itu sendiri.

==================================================
Oleh Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.
MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh
hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu
mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai
Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?
Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi
berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa,
pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan
bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau
Atlantis.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan
bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia.
Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku
Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization
of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33
perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi,
dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah
Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya,
ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan
bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Konteks Indonesia
Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr.
Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan
Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan
perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu
kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk
penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara
Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah
dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua
yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa,
Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai
pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan
dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari
Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang
akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa
itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es
(era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara
bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu,
maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang
mencair.
Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung
Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di
Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan
puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di
kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian
Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau
menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Portugis), Atalaya (Spanyol).
Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat
dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi,
dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera
Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan
dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.
Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi
secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di
kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein dan Stephen
Hawking.
Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil
itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung
berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera
sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung
berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan
luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai
benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh
gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan
gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia,
tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai
bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua
Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh
Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti
tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena
itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed
magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya
lebih senang kepada kebenaran.”
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos
sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah
Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia.
Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di
antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung,
Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari
gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya
tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian
meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan
gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur
yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak
bisa ditembus atau dimasuki.
Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing,
penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah
tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan
lumpur panas dari masa yang lampau.
Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis
Jadi Sebenarnya Indonesia adalah wilayah ahli waris Atlantis, tentu
harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam
pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat
peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana
telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah
dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat
mengatasinya

Perahu nabi nuh ditemukan di gunung ararat turki – noah’s ark founded


Bahtera Nabi Nuh Ditemukan

foto Lokasi Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Lokasi Bahtera Nabi Nuh Ditemui
Kelompok peneliti dari China dan Turki yang tergabung dalam ‘Noah’s Ark Ministries International’ pada 26 April 2010 kemarin mengumumkan bahwa mereka telah menemukan perahu Nabi Nuh di Turki. Mereka mengklaim sisa-sisa perahu Nabi Nuh berada di ketinggian 4.000 meter di Gunung Agri atau Gunung Ararat, di Turki Timur.
“Kami belum yakin 100 persen bahwa ini benar perahu Nuh, tapi keyakinan kami sudah 99 persen,” kata salah satu anggota tim yang bertugas membuat film dokumenter, Yeung Wing, seperti dimuat dari halaman berita Turki, National Turk, 27 April 2010.
Menurut para peneliti, specimen yang mereka ambil memiliki usia karbon 4.800 tahun, dan cocok dengan apa yang telah digambarkan dalam sejarah.
Menurut sejarah sekitar 4.800 tahun lalu, banjir besar menerjang Bumi. dan menenggelamkan hampir separuh daratan dimuka bumi. Sebelum bencana mahadahsyat itu terjadi, Nabi Nuh nabi tiga agama, Islam, Kristen, dan Yahudi, telah diberi wahyu untuk membuat sebuah kapal besar demi menyelamatkan umat manusia dan mahluk Bumi lainnya.
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
Untuk membuktikan kebenaran cerita tersebut, kelompok peneliti dari China dan Turki yang tergabung dalam ‘Noah’s Ark Ministries International’ selama bertahun-tahun mencari sisa-sisa perahu legendaris tersebut. Jika klaim mereka benar, para peneliti Evangelis itu telah menemukan perahu paling terkenal dalam sejarah.
Penelitian ini sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1949, dan pernah diklaim oleh Prof. Ron Wyatt bahwa Ia bersama kelompok arkeolognya telah menemukan lokasinya dan melakukan penggalian pada tahun 1977.
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
RonWyatt , 1933-1999, di museum Gatlinburg Tennessee c. 1995 1995
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
Berikut ini awal penemuan oleh penelitian tim antropolog yang dipimpin oleh Prof. Ron Wyatt.
1. Awal Penemuan
Pemotretan awal oleh Angkatan Udara AS di tahun 1949 tentang adanya benda aneh di atas Gunung Ararat-Turki, dengan ketinggian 14.000 feet (sekitar 4.600 meter)
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
Kemudian, awal tahun 1960, berita dalam Life Magazine: Pesawat Tentara Nasional Turki menangkap sebuah benda mirip perahu di puncak gunung Ararat yang panjangnya 500 kaki (150 meter) yang diduga perahu Nabi Nuh (The Noah’s Ark)
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
2. Foto-foto yang diambil pada tahun 1999-2000
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
Seri pemotretan oleh Penerbangan AS IKONOS tahun 1999-2000 tentang dugaan adanya perahu di Gunung Ararat yang tertutup salju.
3. Peta Lokasi Perahu Nabi Nuh
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
4. Perahu Nabi Nuh di atas Gunung Ararat.
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
5. Situs Perahu Nabi Nuh sebelum dibersihkan
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
6. Pengukuran di Atas Perahu
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
7. Struktur Perahu menurut para arkeolog yang menemukannya
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
8. Gambaran suasana terjadinya banjir yang terjadi pada tahun 1300 BC (Sebelum Masehi). Lihat perbandingan ukuran perahu dengan Pesawar Modern Jumbo 747.
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
Penelitian ini yang kemudian dilanjutkan oleh kelompok peneliti dari China dan Turki untuk membuktikan bahwa situs tersebut memang merupakan sebuah kapal yang telah menjadi legenda dan benar-benar berada di atas Gunung Ararat seperti yang telah diklaim oleh Ron Wyatt sebelumnya.
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
Sisa Peninggalan Nabi Nuh Di Turki
Grup yang beranggotakan 15 orang dari Hong Kong dan Turki hadir dalam konferensi pers yang diadakan Senin 26 April 2010 lalu.
Kepada media yang hadir saat itu, mereka juga memamerkan specimen fosil kapal yang diduga perahu Nuh, berupa tambang, paku, dan pecahan kayu.
Seperti yang dijelaskan para peneliti, tambang dan paku diduga digunakan untuk menyatukan kayu-kayu hingga menjadi kapal. Tambang juga digunakan untuk mengikat hewan-hewan yang diselamatkan dari terjangan bah — begitu juga dengan potongan kayu yang dibuat bersekat untuk menjaga keamanan hewan-hewan.
Penemuan besar ini jadi amunisi untuk mendorong pemerintah Turki mendaftarkan situs ini ke UNESCO agar lembaga PBB itu ikut menjaga kelestarian perahu Nuh.
Cuaca sangat dingin di ketinggian 4.000 meter itu oleh para peneliti diyakini menjaga kondisi perahu Nuh selama ribuan tahun.
Jika benar apa yang mereka temukan adalah sebuah bahtera yang pernah menjadi legenda dalam sejarah manusia, bukankah hal ini telah membuktikan kepada kita manusia bahwa pada jaman dahulu pernah terjadi bencana air bah mahadasyhat yang menenggelamkan seisi bumi…?
foto Gunung Ararat Turki
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Bahtera Nabi Nuh Ditemui
foto Lakaran Bahtera Nabi Nuh
Ilustrasi Bahtera Nabi Nuh

MELACAK LINGKUP BANJIR NABI NUH MELALUI PETA GOOGLE EARTH

Maret 21, 2007 oleh Eka andri susanto
Situs kapal yang dipercaya sebagai bekas kapal Nabi Nuh telah ditemukan di wilayah Turki dekat perbatasan Iran. Di sekitarnya ditemukan pula jangkar batu, reruntuhan bekas pemukiman, dan ukiran dari batu. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di website www.noahsark-naxuan.com. Kayu dari perahu tersebut sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya sebuah bentuk simetris raksasa seperti perahu. Diduga tanah, debu dan batuan vulkanis yang memiliki usia bebeda-beda telah masuk kedalam perahu tersebut selama bertahun-tahun sehingga memadat dan membentuk  sesuai bentuk perahu.
Pada situs tersebut juga diperlihatkan peta satelit yang menunjukan lokasi dari kapal Nabi Nuh beserta jangkarnya. Berdasarkan data ini, lokasi kapal Nabi Nuh dapat pula dilacak dalam peta satelit Google Earth. Peta satelit yang dapat melihat seluruh permukaan bumi sampai dasar laut ini dapat di “download” dengan gratis pada website www.earth.google.com
Dengan peta Google Earth ketinggian (altitude) setiap titik di permukaan bumi dapat diketahui. Berdasarkan peta ini, lokasi situs perahu Nabi Nuh terletak pada ketinggian/level sekitar 2000. Lokasinya di kaki bukit yang agak rata. Sedangkan di daerah sekitarnya masih ada lembah raksasa yang memiliki level jauh lebih rendah. Jadi, perahu Nabi Nuh mendarat pada saat banjir masih belum benar-benar surut. Hal ini juga menunjukkan bahwa kondisi topografi di sekitar situs perahu Nabi Nuh sangat mendukung untuk terjadinya banjir besar  Daerah itu merupakan cekungan (basin) raksasa luasnya jauh melebihi luas cekungan Bandung yaitu  mencapai sekitar 9-10 juta Ha (70% luas pulau Jawa).  Banjir pada saat itu akan seperti lautan karena puncak bukit setinggi 5000 m tidak akan nampak pada jarak 250 km (sebab bumi bulat). Lingkup banjir pada saat perahu Nabi Nuh mendarat dapat dilacak dengan membuat garis ketinggian yang menelusuri level yang sama dengan level dimana perahu ditemukan. Jadi perlu membuat garis kontur yang melalui situs perahu tersebut. Google Earth memiliki fasilitas untuk membuat garis (path line)  yang dapat menelusuri permukaan bumi yang berlevel sama sehingga membentuk sebuah garis kontur. Berikut adalah gambar peta satelit Google Earth yang sudah diolah dengan teknologi komputer sehingga dapat memperlihatkan lokasi dan lingkup banjir Nabi Nuh.
Garis berwarna biru pada peta adalah kontur dengan level 1530 dimana pada lingkup banjir ini hanya ada satu saluran keluar (outlet I). Outlet ini dahulunya diduga berupa celah sempit kemudian melebar karena gerusan air bah. Karena hanya ada satu outlet  sempit yang berbentuk “V”, ini menyebabkan banjir surut menjadi semakin lambat. Namun, perahu sudah mendarat pada level sekitar 2000. Jadi cukup lama menunggu air benar-benar surut.
Luas area banjir pada level 1530 ini sekitar 4 juta ha. Panjang lingkup banjir ini sekitar 560 km (sekitar 3/4 panjang pulau Jawa).
Berapakah level maksimum banjir Nabi Nuh? Level maksimum banjir Nabi Nuh bisa di atas level 2000. Secara teoritis, banjir maksimum terjadi pada saat volume air yang masuk sama dengan volume air yang keluar dari area tersebut. Hal ini membutuhkan juga penelitian geologi untuk mencari bekas-bekas rendaman dan terjangan air yang mungkin masih ada disekitar lokasi. Dilengkapi pula dengan beberapa simulasi komputer.
Berdasarkan riwayat dalam sebuah Kitab Suci (Kitab Kejadian / Genesis), sumber air banjir Nabi Nuh adalah air hujan yang berlangsung 40 hari 40 malam ada juga yang menyatakan 150 hari. Yang penting adalah di daerah itu pernah terjadi hujan yang sangat dahsyat. Air hujan masuk area ini selain secara langsung jatuh dari awan juga melalui cara yang tidak langsung yaitu melalui mata air dari rembesan air danau tinggi yang sudah penuh, air permukaan yang lebih tinggi (catchment area), dan air bah atau air terjun dari danau tinggi yang meluap menuju lembah (lihat peta). Namun sumber utamanya adalah air hujan.
Hujan lebat dengan intensitas curah hujan tinggi turun ke lembah dan sekitarnya. Danau dekat lembah (wilayah Armenia, lihat peta) yang lokasinya lebih tinggi (sekarang +1900 m) akan penuh terlebih dahulu. Kemudian air akan mengalir meresap kedalam tanah menuju lembah (sekarang +850) membentuk banyak mata air. Kemudian setelah danau tersebut tidak mampu lagi menampung air hujan, limpahan airnya akan luber menjadi air bah dan air terjun menuju lembah membentuk gelombang besar. Nampaknya lebih jelas apabila dibuat sebuah gambar animasi sebagai simulasi.
Air banjir keluar lembah melalui beberapa outlet (lihat peta). Outlet I (level dasar 370) menuju laut Kaspia. Outlet II (level dasar 1530) menuju sekitar sungai Eufrat dan Tigris di Irak.  Kemudian Outlet IX level dasar 1980.
Kapan banjir nabi Nuh terjadi? Perlu diketahui bahwa danau yang berlokasi di wilayah Iran (lihat peta) tersebut tidak memiliki saluran/sungai keluar. Danau itu sekarang levelnya sekitar 1266m dan ketika banjir Nuh mulai surut air terjebak didalamnya pada level sekitar 1517m. Jadi permukaan air danau itu mengalami penurunan, sampai sekarang beda levelnya sekitar 250 m. Air menyusut kemungkinan melalui penguapan (evaporasi) dan rembesan bawah tanah (infiltrasi). Sebagai contoh perhitungan sederhana, jika air danau surut rata-rata 5 cm pertahun, maka banjir terjadi pada (250/0.05x1tahun =) 5000 tahun  yang lalu. Tapi untuk perhitungan yang tepat perlu penelitian ilmiah. Untuk menyelidiki kecepatan penurunan perlu diolah data statistik naik turunnya permukaan air danau beserta  data lain yang berpengaruh (tingkat penguapan, permeabilitas tanah/batuan sekitar, curah hujan, bentuk danau, catchment area). Kemudian dengan menggunakan persamaan matematika yang sesuai dapat diketahui kapan terjadinya banjir nabi Nuh.
Benda-benda terapung yang terbawa banjir akan hanyut keluar area melalui outlet terdekat. Ada juga yang hanyut melalui outlet I menuju laut Kaspia. Namun, Perahu Nabi Nuh terlindung di balik bukit Ararat sehingga tidak hanyut (lihat peta). Benda-benda yang tenggelam pada akhirnya akan tergusur hancur (kecuali barang dari batu dan logam) oleh kekuatan air keluar melalui outlet I menuju laut Kaspia. Kekuatan dorongan air akan lebih hebat daripada luapan air tsunami. Reruntuhan atau pecahannya sekarang mungkin terkubur  di sekitar pantai laut Kaspia dekat outlet I yang banyak mengandung endapan tanah lumpur yang terbawa banjir. Mungkin disitulah terletak harta karun dari ribuan penduduk masa lampau. Belum ada informasi bahwa daerah ini pernah dilakukan penggalian arkeologi.
Dengan melihat kondisi topografi seperti ini maka dapat mendukung bahwa Banjir Nabi Nuh bersifat lokal tidak seluruh dunia karena
  1. Ukuran perahu Nabi Nuh sekitar 153 m cukup untuk menampung manusia di bawah seratus orang,  hewan ternak/peliharaan, serta makanan untuk dikonsumsi selama dan sesudah banjir. Jika perahu lebih besar dari itu, maka daya dukung perahu yang terbuat dari kayu untuk memuat seluruh binatang dimuka bumi diperkirakan tidak akan cukup. Lagi pula sangat sulit untuk mengumpulkan binatang dari seluruh penjuru dunia.
  2. Sesuai dalam Alqur’an, Banjir Nuh terjadi karena do’a Nabi Nuh untuk membinasakan umatnya yang tidak beriman.  Sedangkan umat Nabi Nuh tidak berada di seluruh dunia.
  3. Jika seluruh dunia terendam maka airnya kemudian surut kemana.
  4. Penyelidikan geologi tidak mendukung pernah terjadinya banjir di seluruh dunia.
Jika bersifat lokal, kenapa Nabi Nuh tidak mengungsi ke luar daerah? Pada kondisi topografi seperti itu untuk mengazab umat manusia  lebih cocok menggunakan senjata banjir besar. Maka tidak akan ada tempat yang aman untuk manusia yang berada di luar perahu walaupun ditempat yang tinggi.  Selain adanya udara sangat dingin (tidak ada sinar mata hari) dan angin kencang berhari-hari, air bah selalu mengancam dari setiap ketinggian baik di dalam lembah maupun di luar lembah. Bukit tertinggi di dalam lingkup cekungan lembah itu adalah puncak Ararat (sekitar 5000 m) yang gundul dan tepi dari cekungan tertinggi sekitar 3000 m sedangkan topografi di luar keliling tepi cekungan itu lebih rendah. Jika lari dari luar area tersebut yang jaraknya beratus kilometer itu pasti bakal di terjang air bah karena hujan azab turun tidak mungkin dibatasi pas pada sekeliling tepi lembah atau cekungan.
Namun penyelidikan dan penelitian perlu dilakukan terutama untuk penggalian arkeologi di sekitar outlet I pantai laut Kaspia. Barangkali disitu tertimbun benda-benda bersejarah peninggalan zaman Nabi Nuh yang akan menambah bukti kuat. Sejarah banjir Nabi Nuh menimbulkan banyak kontroversi antara para ilmuwan dan agamawan Kristiani dan Yahudi. Penyelidikan ini sangat penting untuk meredam petentangan antara mereka dan menjadikan peristiwa banjir Nabi Nuh ini adalah benar-benar menjadi pelajaran bagi umat manusia.
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S.17. 36.)
Jika belum ada penelitian dan pihak asing tidak mau melakukan penelitian, diharapkan lembaga penelitian dan para ilmuwan dari Indonesia dapat melakukan penelitian disana.  Karena hal ini akan menjadi pelajaran bagi seluruh umat manusia.
Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia. (Q.S.29:15) Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; (Q.S.37. 78.)
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. (Q.S.26. 121)